Jumat, 19 Agustus 2011

Apa Itu Kuantum

Jumat, 19 Agustus 2011

QUANTUM MEDITASI
 

Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya
sampai batas energi ambang,
maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum.
Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum.


Apa itu Kuantum?

Setiap benda jika dibelah lagi akan ketemu partikel terkecil yang kalau dulu disebut atom. Namun sekarang ternyata atom masih bisa dibedah lagi. Akhirnya, setelah dibelah terus, maka ditemukanlah yang namanya quanta yang tidak kasat mata. Semua benda pada hakikatnya adalah quanta yang saling memancarkan getaran elektromagnetik. Hanya saja ada yang rapat dan ada yang jarang. Benda padat sekalipun, jika diurai terus, akan ditemukan ruang kosong di dalamnya. Hal ini mirip dengan film bioskop yang kita lihat bergerak. Padahal, sebenarnya adalah kumpulan dari 24 foto diam dengan berbagai adegan. Jika 24 foto tadi diputar dalam satu detik, maka mata kita akan melihat seolah-olah foto tadi bergerak.

Richard Feyman, ilmuwan Amerika Serikat yang berhasil memenangkan Nobel Fisika atas temuannya, membuktikan bahwa suatu partikel masih dapat dipindahkan menembus batas dinding partikel tanpa mengalami kerusakan. Begitu pula, Dr. Ivan Geiver (pemenang Nobel Fisika) dari Amerika juga semakin menguatkan ilmu kuantum ini. Temuan Feyman dan Geiver ini memberikan pengertian kepada kita bahwa Menerbangkan Tubuh (teleportasi) Seseorang yang menembus ruang pembatas adalah rasional. Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik. Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum.

Fisika kuantum adalah fisika yang berhubungan dan menyelidiki materi-materi mikro atau sangat amat kecil seperti atom, subatom bahkan sampai partikel terkecil yang pernah ditemukan, yaitu quark. Istilah kuantum adalah bentuk jamak dari kuanta. Kuanta adalah suatu paket atau partikel dalam cahaya. Istilah ini diperkenalkan oleh Niels Bohr, awal abad ke-20. Asal mula ditemukannya adalah karena cahaya menjadi sebuah misteri bagi ilmuwan saat itu. Di satu sisi cahaya bersifat sebagai partikel, namun di satu sisi percobaan juga membuktikan bahwa cahaya mempunyai sifat gelombang. Cahaya dianggap partikel karena ketika ditembakkan ke suatu bidang, cahaya dipantulkan sesuai dengan sudutnya. Begitu pula cahaya dianggap sebagai gelombang karena memiliki sifat interferensi seperti gelombang. Bayangkan jika seseorang menjatuhkan batu ke air, akan muncul gelombang disekitarnya. Foton Cahaya bersifat seperti itu. Ketika ditembakkan ke dalam suatu pelat yang terdiri dari dua celah (lubang sangat kecil), foton cahaya (sebuah ‘partikel’) sekaligus melewati ke dua celah tersebut dan membentuk interferensi. Saat ini cahaya dianggap partikel sekaligus gelombang dan melampaui ‘akal sehat’ manusia selama ini (‘akal sehat’ dalam artian logika fisika klasik atau yang seolah-olah ‘nyata’ yang dapat diamati oleh indera)

Dalam fisika kuantum juga dibahas masalah posisi suatu elektron (materi subatom) pada suatu atom. Awalnya para ilmuwan memperkirakan bahwa posisi elektron atau partikel subatomik di dalam suatu atom dapat ditentukan. Hingga Werner Heisenberg menguji apakah suatu posisi elektron dapat ditentukan di dalam suatu atom karena pertentangan antara Niels Bohr dan Erwin Schrodinger yang masing-masing mengajukan berbeda pendapat mengenai sifat elektron ketika berpindah apakah sebagai suatu partikel atau gelombang. Akhirnya, kesimpulan Heisenberg lebih mengejutkan lagi, bahkan sampai ilmuwan sejenius Albert Einstein tidak dapat menerima teori Ketidakpastian Heisenberg yang mangatakan bahwa ketika seseorang berusaha untuk mengamati posisi elektron dalam suatu atom, orang tersebut akan membuatnya bergerak menjadi posisi yang berbeda dari awal. Dengan kata lain, ketika berusaha untuk menentukan posisinya melalui observasi, perilaku elektron menjadi seperti partikel, sementara ketika ingin mengukur energinya akan membuat perilaku elektron menjadi seperti gelombang. Dengan kata lain Heisenberg menyimpulkan bahwa sebagus apapun cara untuk berusaha mengukur posisi suatu elektron, pengamat tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Yang dapat diperkirakan hanyalah kemungkinan posisi elektron dalam suatu atom karena elektron selalu bergetar.

Dalam Fisika Kuantum sampai saat ini semakin banyak ditemukan partikel subatom, bahkan partikel yang lebih kecil lagi dari atom yang dinamakan quark. Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa inilah partikel yang terkecil dan yang menyusun semua alam semesta ini. Penelitian tentang quark masih berlanjut hingga saat ini. Ciri yang lebih aneh lagi ditemukan dalam suatu atom, yaitu bahwa atom memiliki sifat kecenderungan saling menarik tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan kata lain, teori tersebut menyebutkan bahwa rangkaian ikatan foton (partikel subatom) dapat menjelajah bahkan menembus logam dengan tetap terikat satu sama lain. Bukti konkretnya di tahun 2003 ketika Anton Zeilinger dan kolega-koleganya dari Universitas Wina berhasil memindahkan foton-foton yang terikat melintasi sungai Danube sepanjang 600 meter dan terus terikat. Dampaknya adalah kemungkinan teleportasi benda bahkan sampai memindahkan manusia di masa mendatang dalam hitungan detik.

Sebagai rumusan dasar dalam ilmu sains, rumusan Newton, F=m.a, memberikan pengaruh dan kegunaan yang cukup besar. Kehadiran rumusan hukum kekekalan energi dan momentum, misalnya, tidak lain dikembangkan dari rumus dasar Newton.Berdasarkan rumusan Newton pula maka berkembang ilmu optika klasik, mekanika, dan mesin-mesin. Buah dari karya besar Newton itu antara lain termanifestasi dalam peradaban mesin-mesin industri. Sir Issac Newton dapat diakui sebagai ilmuwan besar abad 17 hingga abad 20.

Akan tetapi, dengan berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap rumusan Newton untuk menjelaskan dinamika elektron-struktur atomik-maka berkembanglah teori baru. Berawal dari tesis Albert Einstein melalui rumusan E= mc2, lebih lanjut menjadi arahan bagi para ilmuwan untuk dapat memodelkan dinamika elektron dengan lebih tepat. Dari rumusan Einstein, ternyata terbukti bahwa rumusan Newton pada dasarnya merupakan pendekatan dari rumusan E=mc2. Hal ini terjadi karena dinamika gerak partikel masif adalah << (baca: jauh lebih kecil dari) kecepatan cahaya, c. Dengan kata lain, rumusan F=m.a adalah pendekatan dari E=mc2. Namun, kehadiran rumusan Einstein tidak secara otomatis meniadakan hukum-hukum yang dikembangkan berdasarkan Newton.

Seiring dengan pembuktian Einstein dan kawan-kawan dalam bidang fisika ini, maka berkembanglah cabang ilmu Fisika Kuantum. Dari namanya kuantum diambil dari kuanta-energi yang dipancarkan oleh loncatan elektron. Lebih lanjut, Scrodinger berhasil memberikan rumusan peluang elektron untuk dapat melakukan terobosan pada suatu dinding penghalang. Lebih lanjut, kuantum ini dimodelkan melalui sumur-sumur kuantum. Pada sumur itu digambarkan elektron yang hendak menembus dinding sumur pembatas dengan probabilitas tertentu.


0 komentar:

Poskan Komentar